Cerita Inspirasi 2

  • September 14, 2010 at 8:33 pm in

SEPENGGAL KISAH

Rasa kagum selalu memenuhi hati dan pikiran saat mengingatnya, mendengar namanya disebut. Jika disuruh bercerita tentangnya, mungkin bibir ini  tak kan berhenti berucap. Karena dia adalah sosok yang sungguh luar biasa. Dia adalah malaikat bagi setiap insan yang berhasil menapakkan kaki di bumi. Tanpanya kita tiada. Tanpanya kita binasa. Ya, dia adalah Ibu.

Ibuku tak jauh berbeda dengan sosok ibu yang lain. Ibu yang selalu menyayangi putra-putrinya tanpa pamrih. Sosok wanita yang rela melakukan apa saja asal buah hatinya tersenyum bahagia. Yang tak pernah berkata ‘tidak’ saat sang anak meminta. Yang selalu tersenyum pada anaknya meski badan lelah tiada terkira. Dia adalah Ibu.

Setiap detik yang terlewati bersama Ibu sangatlah berkesan. Saat masih kecil, jika aku bertengkar dengan kakak, Ibu selalu membelaku. “Adik tidak akan nakal jika kakak tidak memulainya”, kata Ibu. Memang benar, aku tidak akan membalas jika kakak tidak menjahiliku terlebih dahulu. Tapi entahlah, mungkin memang sudah menjadi kodrat, seorang kakak selalu ingin membuat adiknya menangis.

Ibu adalah sosok yang sangat sabar. Selalu menghadapi aku dan kakak yang hobi bertengkar dengan kepala dingin.Tak pernah sekalipun Ibu memukul kami, memarahi saja jarang. Ibu mendidik kami dengan prinsip ‘bebas tapi tahu batas’. Dalam segala hal, Ibu mengajari kami untuk selalu bertanggung jawab dengan segala tindakan yang kami lakukan. Ibu memenuhi apa yang kami pinta (selama itu untuk kebaikan kami), namun kami pun harus melakukan tugas-tugas dan belajar dengan sungguh-sungguh.Ibu adalah wanita yang tangguh dan jarang mengeluh. Bahkan saat cobaan menghampiri, Ibu selalu berkata, “Banyak orang di luar sana yang tak seberuntung kita. Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang”.

Suatu hari, aku melakukan kesalahan besar hingga Allah menegurku. Saat itu, aku sedang sakit. Karena tidak enak badan, emosiku menjadi labil dan tak terkendali. Aku marah-marah kepada Ibu, minta untuk segera dibawa ke dokter. Dengan sabar, Ibu menemaniku ke dokter. Setelah memeriksa, dokter memberikan berbagai obat. Sesampainya di rumah, aku ingin segera meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dengan sedikit membentak aku menyuruh ibu mengambilkan air minum untukku. Tak berapa lama kemudian Ibu datang dengan segelas air putih. “Berdoa dulu nduk, sebelum minum obat”, kata Ibu sambil mengelus kapalaku. Aku hanya terdiam karena gusar merasakan badan yang tak karuan. Tak berselang dua menit setelah minum obat, seluruh tubuhku terasa  gatal dan panas. Aku menggaruk-garuk wajah, punggung, dan seluruh tubuhku layaknya cacing kepanasan. Ibu yang melihat kondisiku langsung menangis dan membantuku menggaruk. Rasa gatal dan panas itu tak kunjung hilang, malah semakin menjadi-jadi. Lama kelamaan ‘ku rasa seluruh tubuhku bengkak. Ibu segera meminta bantuan kepada tetangga untuk membawaku kembali kepada dokter yang tadi kami kunjungi. Ayah dan kakak kebetulan sedang pergi. Sesampainya disana, dokter langsung menyuntikku, entah dengan obat apa, yang pasti rasa gatal dan panasnya mulai berkurang. Kata dokter, aku alergi terhadap antibiotik yang tadi diberikan. Setelah disuntik, akan segera pulih katanya. Meski rasa sakitnya sudah berkurang, tetapi bengkak di tubuhku tak lekas pulih. Di rumah, aku beranikan diri untuk berkaca, melihat rupaku. Betapa terkejutnya aku saat ‘ku lihat wajahku seperti maling tertangkap yang dipukuli massa. Disinilah aku sadar, ini adalah hukuman dari Allah karena aku telah bersikap tidak sopan kepada Ibu. Allah menghukumku lewat obat, agar aku sadar telah berbuat salah. Mulai saat itu, aku selalu berusaha untuk bersikap baik kepada kedua orang tua, terutama kepada Ibu. Tak ada alasan untuk tak berbuat baik kepada mereka. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak untuk memuliakan kedua orangtua kita, terutama Ibu.

Cerita Inspirasi 1

  • September 14, 2010 at 8:31 pm in

DIA

Wajahnya ayu, dengan tubuh tinggi semampai. Mungkin 5cm lebih tinggi daripada aku. Perjumpaan pertama kami adalah saat memasuki kelas baru di SMA, kelas X-5. Dia duduk di bangku depanku. Saat itu, tak ku rasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Baru setelah beberapa kali berinteraksi dengannya, aku mulai menyadari perbedaan itu. Sebut saja Ana, teman SMA-ku.

Suatu hari, saat berbincang denganku, dia berkata, “Maaf, saya mengalami gangguan pendengaran. Jadi maaf jika kurang nyambung saat bercakap”. Aku tersentak mendengarnya. Rasa iba, kagum bercampur jadi satu. Dia mengatakannya sambil tersenyum. Mengungkapkan kekurangan dirinya dengan lantang, tanpa takut jika nanti ada orang yang menertawakannya. Padahal kebanyakan orang berusaha mati-matian untuk menutupi kekurangan yang ada pada diri masing-masing. Betapa tegarnya ia. Pada hari-hari berikutnya, tak jarang ada teman yang menertawakannya atau menggunjingkan dirinya. Mungkin dia tidak tahu. Namun  dibalik kekurangannya itu, tersimpan kemauan yang kuat untuk belajar. Sorot matanya seolah menegaskan, “Saya memang memiliki kekurangan, saya memang tak sesempurna kalian. Namun saya tak perlu dikasihani. Meski pendengaran saya tak berfungsi dengan baik, Allah masih memberi saya mata untuk melihat apa yang Bapak/Ibu guru tuliskan di papan tulis. Allah masih menganugerahi tangan yang bisa saya gunakan untuk menulis, untuk melakukan percobaan-percobaan di laboratorium, kaki untuk melangkah kemana guru perintahkan. Segala yang Allah beri pada saya adalah modal saya untuk dapat belajar seperti kalian. Saya juga bisa seperti kalian.”

Dengan keadaannya, Ana berusaha menghargai orang lain. Selalu memperhatikan saat orang lain berbicara padanya. Ana selalu duduk di bangku paling depan, tak pernah berpindah tempat duduk. Satu hal yang menambah kekagumanku padanya adalah sikapnya yang selalu bersyukur kepada Allah, apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisinya, dia selalu tersenyum. Mungkin ini adalah kali pertama aku bertemu hamba Allah yang begitu tulus ikhlas menjalani hidup.

Ana, sosok yang pantang menyerah. Awalnya, aku sempat berpikir tentang bagaimana dia bisa belajar dengan kondisinya saat ini. Namun keraguanku terhadapnya salah besar, dia belajar dengan caranya sendiri. Dengan memperhatikan segala hal yang guru terangkan, meski tak semua pelajaran dapat dia tangkap. Dia rajin membaca dan tidak segan untuk bertanya pada siapapun yang dianggapnya lebih menguasai materi. Meski banyak orang meremehkannya, dia tak peduli. Itu dia jadikan sebagai  cambuk pemicu semangat. Dalam beberapa pelajaran berbasis hafalan, Ana tak jarang mendapat nilai tertinggi di kelas. Di luar bidang akademik pun, dia tak mau kalah dengan teman-teman yang lain. Dia aktif mengikuti berbagai organisasi, seperti PMR, PRAMUKA, rohis, karang taruna, dan sebagainya.

Satu tahun pertama telah terlewati, kami menginjak kelas XI. Tak disangka, aku satu kelas lagi dengan Ana. Memasuki kelas XI, Ana mengenakan jilbab. Di tahun ini, musibah menimpa keluarganya. Kakak lelaki satu-satunya dipanggil oleh Allah SWT dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Dia sering bercerita kepadaku tentang sosok kakaknya. Betapa Ana sangat menyayanginya. Kakak yang selalu memberinya semangat, kakak yang menjadi tempat bersandar saat susah. Terasa berat pastinya. Tetapi seperti yang ‘ku katakan tadi, dia menghadapinya dengan senyum. “Kalau pun kakak pergi, toh Tuhan tidak kemana-mana”, katanya. Subhanallah. Ketabahan yang sungguh luar biasa. Sepeninggal kakaknya, Ana menjadi sosok yang lebih religius. Sering aku bertanya kepadanya tentang banyak hal yang tidak ‘ku mengerti. Atau meminta saran saat masalah menghadang.

Tak terasa satu tahun berlalu, kami naik ke kelas XII. Sudah barang tentu aku satu kelas dengan Ana, karena tidak ada pengacakan ulang saat kenaikan kelas XII. Menginjak kelas XII, baru aku tahu hobi lain dari seorang Ana, yakni menulis dan membaca puisi. Kata-kata yang terangkai saat dia menulis sangatlah elok. Banyak orang berkata bahwa dia berbakat untuk menjadi seorang penulis. Di dorong oleh guru dan teman-teman, Ana mau mengikuti berbagai lomba menulis dan membaca puisi. Berkat kesungguhannya, dia pun berhasil menjuarai berbagai lomba di bidang sastra. Ana mempunyai cita-cita besar, yakni bisa berdakwah melalui tulisannya. Sampai saat ini pun, dia masih terus berkarya untuk mewujudkan mimpinya.

Ana, teman yang mengajariku banyak hal. Tentang pentingnya rasa syukur, tentang ketabahan, tentang keberanian mengejar impian, tentang perjuangan, tentang keikhlasan, tentang berpikir positif dalam segala hal. Allah Maha Adil. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Orang yang pandai mensyukuri segala hal, baik nikmat maupun musibah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya